Jumat, 17 Juli 2009

Lima Tahun Terpisah, Kini Yunita Lumpuh

Written by Eti Wahyuni Tuesday, 10 March 2009 06:11 Awalnya, orangtua Yunita, 21 tahun, tidak menyangka akan bertemu kembali dengan anaknya. Setelah lima tahun terpisah tanpa kabar, mereka nyaris putus asa akan dapat menemukannya kembali. Hingga, kurang lebih dua minggu lalu anak keempat dari sepuluh bersaudara itu pulang, dengan kaki yang lumpuh!

Kepulangan Yunita ini tentu disambut hangat pasutri Tupon, 58 tahun dan Mariam, 54 tahun. Kegembiraan dan keharuan sontak mewarnai atmosfir rumah sederhana di Desa Sei Cabang Tebasan, Kecamatan Stabat Kabupatan Langkat itu. Gembira, karena rindu terpendam akhirnya membuncah juga. Haru, karena Yunita yang manis dan sehat saat meninggalkan rumah dulu, kini dalam keadaan tidak dapat berjalan. Terbata, Yunita menceritakan kepada bibinya, Sugiati, 32 tahun, perjalanan hidup yang dilakoninya, empat tahun sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di Medan dan setahun berikutnya dalam “asuhan” Rusli Tanjung, seorang mantan kepala desa di Tanjung Ledong, Asahan. Usai menceritakan hal ini kepada bibinya, Yunita memilih untuk bungkam setiap ada orang yang bertanya tentang pengalamannya itu. Keceriaan dan keramahannya langsung berubah, menjadi diam dan sesekali menerawang.

Beruntung, pada saya ia mau sedikit berbagi cerita. Lima tahun lalu, ada seorang wanita yang mencari tenaga kerja ke kampungnya. Ia yang baru saja menyelesaiakan sekolah SMP Terbuka-nya langsung tertarik. Bersama dua temannya yang usianya sebaya ia berkemas dan mengikuti wanita yang bernama NH itu tanpa memberitahukan ke orangtuanya terlebih dahulu.

Pada bagian ini, bibinya yang mendampinginya menambahkan, waktu itu ia melihat Yunita dengan tas besar yang diduganya berisikan pakaian, berjalan dengan seorang wanita usia tiga puluhan. Tetapi seperti dihipnotis, lidahnya kelu untuk memanggil. “Ada keinginan untuk memanggil, tapi lidah saya tidak bergerak, jadi saya cuma melihat mereka lewat,” kenang Sugiati.

Mereka kemudian menuju ke sebuah rumah di kawasan Medan Baru, Medan dan bekerja sebagai PRT. Hanya selang beberapa bulan dua kawannya melarikan diri, pulang ke kampungnya. Entah kenapa, Yunita memilih untuk menetap di rumah itu. Ia beralasan, takut pulang ke rumah karena tak pernah memberitahukan kepada orangtuanya perihal kepergiannya itu.

Di rumah, kecemasan mengusik Tupon sekeluarga. Teman Yunita pun dibujuk untuk bisa menunjukkan keberadaan Yunita, tapi mereka bersikukuh menolak. Setelah menghimpun berbagai informasi, keluarga ini pun memberanikan diri mendatangi rumah tempat Yunita bekerja. Tapi sambutan tak ramah langsung menghadang. Pemilik rumah spontan menjawab Yunita tak lagi bekerja di situ dan tak ada informasi apapun yang bisa memberikan titik terang keberadaan Yunita. Bahkan, keluarga ini juga nekad membawa seorang anggota TNI untuk menggeledah rumah itu, tapi justru ancaman gugatan yang diterima keluarga ini. Belakangan hari diketahui, saat itu Yunita sedang menjaga salah satu anggota keluarga majikan yang sedang opname di rumah sakit.

Keluarga Yunita sempat mendapati ada bekas luka di bagian punggung Yunita. Tetapi ditegaskannya kalau bekas luka itu karena sakit gatal yang menderanya. Berkali-kali gadis berambut keriting ini meyakinkan kalau ia mendapat perlakuan yang sangat baik dari majikannya dan dianggap sebagai anak sendiri meskipun pada waktu lain (kepada bibinya) ia bercerita beberapa kali dituduh mencuri saat majikan wanitanya kehilangan kelung emas dan barang berharga lainnya.

Tiga tahun setelah kepergiannya, bersama NH Yunita pernah berkesempatan mengunjungi kampungnya, tetapi ia hanya berkunjung ke rumah teman sekolahnya yang tak jauh dari rumahnya. Ia pun menyamarkan identitas dirinya dengan menggunakan cadar. Pada kawannya ia menitip roti untuk diberikan kepada orangtuanya. Menerima titipan ini, ibu Yunita sontak pingsan, menyesalkan ketidakhadiran anak perempuannya itu.

Dibuang ke Tanjung Ledong

Empat tahun berlalu, majikan wanitanya mengatakan akan membuangnya ke Tanjung Ledong. “Di Tanjung Ledong, kau tak kan dikenali. Kalaupun orangtuamu mencari dengan berduku, hanya dukun hebat saja yang bisa menemukan kau,” demikian dikatakan majikan perempuannya seperti yang diceritakan Yunita pada saya.

NH yang tinggal serumah dengan majikan Yunita kendati bukan keluarga, akhirnya mengantarkan Yunita dengan naik kereta api ke Tanjung Balai. Sesampai di Tanjung Balai, mereka melanjutkan perjalanan dengan menggunakan perahu hingga sampai ke Tanjung Ledong. Lepas Ashar, Yunita sampai di tempat itu dan ditinggalkan di sebuah rumah kosong. Muka Yunita dicorat coret dan alisnya pun dicukur. “Supaya kau tidak diganggu laki-laki,” itu alasan NH kepada Yunita saat meninggalkan Yunita, sendiri dan terlantar.

Tak berapa lama seorang anak menemukannya dan warga sekitarpun heboh. Awalnya mereka menganggap Yunita tak waras atau TKW dari Malaysia yang dibuang. Setelah ditanya macam-macam, mereka meyakini kalau Yunita tidak gila dan seorang mantan kepala desa bersedia “menampung” Yunita di rumahnya.

“Waktu itu saya mengaku dari Tanah Karo. Saya tidak mau pulang karena saya takut dimarahi,” katanya. Akhirnya setahun ia berada dalam asuhan Rusli Tanjung, sang mantan Kepala Desa.

Entah kenapa, sepuluh bulan kemudian ia mengalami lumpuh. Saat bangun tidur kakinya terasa lemas dan tidak bisa menjejak ke tanah. Saat dipaksakan berjalan ke kamar mandi, ia justru terjatuh. Dua bulan ia dalam kelumpuhan, hingga akhirnya Rusli mengumumkan di sebuah suratkabar tentang keberadaan Yunita sebagai anak terlantar.

Tuhan mengatur segalanya. Seorang keluarga membaca berita itu dan langsung mengenali foto yang mengiringi berita itu sebagai Yunita. Keluarga pun menghubungi nomor telepon yang dicantumkan dalam berita itu. Dan akhirnya, empat orang keluarga besarnya menjemput Yunita ke Tanjung Ledong. Kini, Yunita bersatu dalam kehangatan keluarga. Kakinya yang lumpuh pun dalam perawatan pengobatan alternatif dan kini telah mulai menunjukkan kemajuan yang berarti. Meskipun belum bisa jalan sempurna, setidaknya kini ia sudah mulai bisa melangkah tertatih dengan berpegangan pada dinding.

Kabar kepulangan Yunita setelah eksploitasi yang ditanggungnya ternyata sampai juga ke Radio Komunitas Mitra FM yang ada di Desa Tandem Hilir II Kecamatan Hamparan Perak, Deli Serdang. Organisasi radio ini kemudian melakukan pendampingan dan berupaya menyemangati dan memotivasi agar tak lagi larut dalam kesedihan dan trauma masa lalu.

Lebaran tinggal dalam hitungan hari. Keluarga Yunita yang sebelumnya selalu diliputi kesedihan karena kehadiran keluarga yang tidak lengkap, pada Lebaran kali ini boleh bernapas lega. Salah satu anak perempuannya akhirnya pulang dan dengan kegembiraan dan rasa syukur menyambut idul fitri untuk bersilahturahmi dan saling memaafkan….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar