Jumat, 26 Juni 2009

Children

ingatlah....semarah apapun, jgnlah bertindak keterlaluan.............. kepada semua parents,

Sebuah kisah untuk dijadikan pengalaman dan pengajaran...... Sebagai ibu kita patut juga menghalang perbuatan suami kita memukul especially pada anak2 yg masih kecil dan tak tau apa2. Mengajar dgn cara memukul bukanlah cara terbaik, mungkin sudah sampai waktunya untuk badan2 kebajikan educate org M'sia untuk praktikkan konsep 'time out" jika anak2 buat salah. rgds.kay

>>Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar - >>mninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah semasa keluar bekerja. >>Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun. >>Bersendirian di rumah dia kerap dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja >>bermain diluar, >>tetapi pintu pagar tetap dikunci. >>Bermainlah dia sama ada berayun-ayun di atas buaian yang dibeli >>bapanya,ataupun memetik bunga raya, bunga kertas dan lain-lain di >>halaman >>rumahnya. >>Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dia pun mencoret semen >>tempat mobil ayahnya diparkirkan tetapi kerana lantainya terbuat dari >>marmer,coretan >>tidak kelihatan. Dicobanya pada mobil baru ayahnya. Ya... kerana mobil >>itu bewarna gelap, coretannya tampak jelas.Apa lagi kanak-kanak ini pun >>membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya. Hari itu bapak dan ibunya >>bermotor ke tempat kerja kerana macet ada perayaan >>Thaipusam. >>Setelah penuh coretan yg sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri >>mobil. >>Dibuatnya >>gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain >>sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa >>disadari si >>pembantu rumah. >>Pulang petang itu, terkejut pasangan itu melihat kereta yang >>baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran. Si bapak yang >>belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini?" >>Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia >>juga beristighfar. >>Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis >>tuannya. >>Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan >>'Tak tahu... !" "kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" >>hardik si isteri lagi. >>Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari >>kamarnya. >>Dengan penuh manja dia berkata "Ita yg membuat itu abahhh.. cantik kan!" >>katanya sambil >>memeluk abahnya ingin bermanja seperti biasa. Si ayah yang hilang >>kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di >>depannya, terus dipukulkannya >>berkali2 kw telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa-apa >>terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan.Puas memukul telapak >>tangan, si >>ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan saja, >>seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. >>Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa?. Si bapak cukup >>rakus >>memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya. >>Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah >>menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. >>Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan >>berdarah. >>Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia >>ikut >>menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat >>luka2nya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak >>kecil itu. Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama >>pembantu rumah. >>Keesokkan harinya, kedua-dua belah tangan si anak bengkak. Pembantu >>rumah >>mengadu. "Oleskan obat saja!" jawab tuannya, bapak si anak. >>Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang >>menghabiskan >>waktu di kamar pembantu. Si bapak konon mau mengajar anaknya. Tiga hari >>berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga >>begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Ita demam... >>" jawap pembantunya ringkas. >>"Kasih minum panadol ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur >>dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita dalam >>pelukan pembantu rumah, dia menutup lg pintu kamar pembantunya. >>Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu >>badan >>Ita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 siap" >>kata majikannya itu. >>Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Doktor >>mengarahkan ia dirujuk ke hospital kerana keadaannya serius. Setelah >>seminggu di rawat inap doktor memanggil bapak dan ibu anak itu. >>"Tidak ada pilihan.." katanya yang mengusulkan agar kedua tangan >>anak itu dipotong kerana gangren yang terjadi sedah terlalu >>parah. >>"Ia sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu >>dipotong dari siku ke >>bawah" kata doktor. >>Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. >>Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan. Si ibu >>meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata >>isterinya, si bapak terketar-ketar madandatangani surat persetujuan >>pembedahan. Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang >>suntikkan >>habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran2 melihat >>kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. >>Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka >>semua >>menangis. >>Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam >>linangan air mata. >>"Abah.. Mama... Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau ayah >>pukul. >>Ita tak mau >>jahat. Ita sayang abah.. sayang mama." katanya berulang kali membuatkan >>si ibu gagal menahan rasa sedihnya. >>"Ita juga sayang Kak Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, >>sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung histeris. >>"Abah.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa ambil.. Ita janji tdk akan >>mengulanginya >>lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? Bagaimana Ita mau bermain >>nanti? Ita janji tdk akan >>mencoret2 mobil lagi," katanya berulang-ulang. >>Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia >>sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat >>menahannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar