Jumat, 28 Agustus 2009

Saat Pengembalian ( For Maitreya)

Lihatlah sebuah dunia dalam diri, apa yang ada dan terjadi di dalamnya. Wah, seludang niat pikiran terus timbul-tenggelam sesuka hati, berganti dan berkelana dengan begitu bebas hanya karena tak ada orang yang melihat. Begitulah kita berpikir ke sana ke mari tak tentu arah.
Kadang terbayang kejadian yang menggembirakan, kita pun tersenyum sendiri. Kadang teringat peristiwa yang menyedihkan, air mata pun menetes tanpa disadari. Sungguh empat musim di hati bisa terjadi dalam satu hari.
Kita hidup dalam dunia fantasi, alam khayal, dan dibuai mimpi. Coba berpalinglah, amatilah niat pikiran yang sudah terbiasa bebas dan tak mau diatur ini. Sekarang umumkan kepadanya, bahwa nurani telah datang untuk menjadi tuan, bagaimana pun dia harus menjadi bawahan yang mau diatur. Pasti niat pikiran akan tersenyum sinis dan meremehkan nurani. Telah lama dia bebas sesuka hati, tak ada yang mampu mengendalikannya, kini nurani minta ganti posisi, bisakah?

Tidak mudah untuk berpaling berarti tak mudah menuju pantai bahagia. Semua ini karena samudera duka terlalu luas tak bertepi. Hanya di bawah kasih dan kuasaNya semua dapat terjadi.
Laomu dan Sang Maitreya amat jelas akan semua ini, maka kuasa firmanNya diturunkan dan Sang Maitreya dihadirkan. Diksa Maitreya dengan kekuatan mahadahsyat, seperti kekuatan yang menciptakan alam semesta, datang membawa kita berpaling ke dalam nurani.
Diksa Maitreya datang menghentikan langkah kita, selanjutnya kasih Maitreya membimbing kita untuk berputar arah dan melangkah pulang. Kalaulah kita sudah pernah melihat ke dalam diri dan menyaksikan diri yang penuh kelemahan, kekurangan, dan keterikatan, maka kita akan termenung dan bertanya, ”Mampukah aku berpaling dan kembali?” Selanjutnya kita akan menjerit, ”Oh, Laomu….. Oh, Maitreya betapa aku butuh uluran tanganMu dan limpahan kekuatan dariMu. KarenaMulah aku baru mampu dan kuat melangkah untuk kembali kepadaMu!”

Dengan berpaling ke dalam diri membuat kita berpaling kepada Laomu dan Sang Maitreya. Selama ini kita melupakan Laomu karena kita terus berlari pergi dan tak pernah mau kembali. Kita sibuk mencari semua yang di luar diri, sementara nyata-nyata kita kehilangan diri. Inilah sebabnya semakin mencari semakin haus, walau banyak memiliki namun tetap gersang dan kosong dalam hati.
Sekaranglah kita harus berpaling dan kembali. Berpaling ke dalam diri, terlebih harus berpaling kepada Laomu dan Sang Maitreya. Tak ada artinya kita tutup mata dan tutup telinga untuk kemudian terus mencari di dalam hati. Ini akan membawa kita menuju samudera tak bertepi yang baru, bukan membawa kita ke pantai bahagia. Ingat, Laomu sumber segalanya. Bagian jiwa Laomu harus kembali dan menyatu kepadaNya, demikian barulah pengembalian sejati.

Mulai dari hal sederhana dalam kehidupan sehari hari sampai peristiwa gegap gempita yang dialami, jangan lupa berpaling ke dalam diri dan berpaling untuk memanggil namaNya. Serahkan diri ke dalam pengaturanNya, berusahalah memahami dan berbuat sesuai dengan maksud dan kehendakNya. Laomu dan Sang Maitreya yang paling memahami kita, Dia akan mengatur yang terbaik untuk kita. Dalam kesulitan, jangan lupa berpaling dan memohon kekuatan dariNya, maka kita akan kuat mengatasi kesulitan hidup. Dalam keberhasilan, jangan lupa berpaling dan bersyukur atas rahmatNya, maka kita akan tetap mawas diri dan memanfaatkan keberhasilan untuk membawakan berkah bagi sesama. Dalam kebimbangan, jangan lupa berpaling dan memohon petunjukNya, maka Dia akan menunjukkan jalan menuju terang.
Dalam kegalauan batin, jangan lupa berpaling memohon kekuatanNya, maka terang kasihNya akan melenyapkan semua kegalauan dan keresahan. Dalam nafsu keinginan yang menggelora, jangan pula berpaling dan memanggil namaNya, maka kekudusanNya akan datang menentramkan hati yang menggelora. Dalam keterikatan, jangan lupa berpaling dan berdoa kepadaNya, maka terang kearifanNya akan membuka semua simpul hati. Percayalah, tak ada yang tak mungkin bagiNya dan tak ada yang tak mampu dilakukanNya.
Kuncinya, kita harus berpaling ke dalam diri dan berpaling kepadaNya. Berpalinglah! Saat pengambalian telah tiba.

Sungguh hidup adalah anugerah kesempatan dariNya. Kesempatan untuk kembali dan menemukan jati diri. Laomu terus melimpahkan kasihNya dengan cara yang tak ada habis-habisnya dan dalam waktu yang juga tak ada habis-habisnya, semua ini karena kita bagian jiwa dariNya, kasihNya untuk kita sungguh tak ada habis-habisnya. Satu demi satu kehidupan, satu demi satu siklus penciptaan alam, satu demi satu utusanNya datang ke tengah kita, untuk apa? Demi siapa?

Kesempatan hidup dianugerahkan kepada kita bukan untuk dibiarkan berlalu bersama waktu. Bukan juga untuk diratapi, disesali, dikesampingkan, masa bodoh, sebaliknya bukan juga untuk mencari kenikmatan sesuka hati sampai sepuas-puasnya untuk kemudian terkapar seletih-letihnya. Betapa banyak manusia yang melewati waktu dalam hidupnya dengan penuh kekesalan, sehingga terus melampiaskan emosinya dan menghempaskan hidupnya. Beginikah hidup? Begitu tak berartikah diri kita?

Mari kita peduli! Peduli pada sesuatu yang paling inti dan pribadi. Tiada lain peduli pada diri sendiri. Cobalah kita buka mata menatap diri, buka telinga dengar suara diri, buka hati untuk terima diri, dan ambil peduli. Asal kita mau peduli maka kita pasti bisa kembali. Asal kita mau peduli, suaraNya pasti sampai ke dalam diri. Mulailah dengan peduli diri, berpaling menatap diri, merenung tentang diri, berubah demi diri, berjuang membangun diri. Melulu demi diri, karena memang dirilah kunci semua masalah - penyebab semua masalah dan penyelesai semua masalah.

Maitreya telah datang menuntun dan membimbing kita tiada lain untuk menyelesaikan masalah diri dan menemukan jati diri sejati. Saat ini saat yang paling tepat, saat ini kesempatan yang terbaik, saat ini anugerah yang terbesar, manfaatkanlah, tunggu apa lagi? Maitreya tak membawa kita ke dalam goa, ke tengah rimba, duduk bertapa, juga tak menyuruh kita berdiam diri demi mendapatkan ketenangan hati, tapi Maitreya justru menempatkan kita di tengah hiruk-pikuk dunia, di antara aneka ragam manusia. Di sinilah kita harus berlaga, mengarungi lautan manusia, melintasi samudera masalah. Dalam keadaan demikianlah kita dibimbing untuk berpaling, melihat diri, menemukan diri, dan menunjukkan seperti apakah diri ini.

Hari demi hari, waktu ke waktu, setiap saat kita harus menghadapi banyak masalah dan manusia silih berganti dan terus terjadi. Semua masalah dan manusia merupakan media untuk berpaling dan kembali ke dalam diri, sama sekali bukan untuk menjerat dan mengikat diri untuk terus bergelut di dalamnya. Puji-cela, sukses-gagal datang silih berganti dalam kehidupan kita. Bisa terjadi atas diri, bisa juga kita menyaksikan semua ini terjadi pada orang lain. Jangan melayang lama dalam pujian dan kesuksesan, jangan juga merana lama dalam celaan dan kegagalan. Jangan minder dan iri melihat keberhasilan orang lain, jangan juga mencela mereka yang ditimpa kegagalan. Bagaimana reaksi spontan dalam hati saat puji-cela, sukses-gagal terjadi, sebenarnya begitu berpaling maka tampak jelaslah bagaimana kepribadian kita. Setelah berpaling melihat diri, selanjutnya didiklah diri dengan kebenaran yang ada, berdoa dan berusahalah memperbaiki diri.
Sebenarnya asal kita tak lupa berpaling dan bisa jujur mengakui kekurangan diri, ini sudah menjadi langkah awal yang amat menggembirakan dalam membina. Ini batu pertama dalam pembangunan pribadi mulia. Ini ayunan langkah pertama untuk kembali kepada diri sejati dan bersua dengan Laomu. Demikianlah proses membina yang sebenarnya.

Begitu mata terbuka, alam ciptaanNya terhampar di depan mata. Langit, bumi, pasir, bunga, pohon, awan, gunung, air, bintang, bulan, dan sebagainya tak pernah lenyap dari tatapan mata kita, selalu hadir dalam kehidupan kita. Seisi alam mengajak dan mengingatkan kita untuk kembali ke dalam diri. Karenanya, saat memandang alam semesta coba hayatilah keindahan dan kemukjizatan ciptaanNya. Selanjutnya berpalinglah ke dalam diri, bimbinglah diri untuk meneladani kemuliaan alam yang selalu memberi dan melayani.
Dengan suara lembut dan penuh ketulusan, haturkan terima kasih kepada alam, karenanyalah kita bisa tetap hidup sampai hari ini dan untuk selanjutnya. Semua sandang, pangan, tempat tinggal, dan semua kebutuhan kita, tak ada satu pun yang bukan berasal dari alam. Sungguh kita tak bisa hidup tanpa alam. Asal kita mau berpaling, maka alam akan menjadi guru kita yang sabar dan telaten. Dia bukan mengajar dengan suara dan tutur kata; dia tak membawa buku tebal dan menyuruh kita menghafal sejuta rumus; tapi luar biasa, dia membimbing dengan teladan nyata. Kita tak perlu membaca, menghafal, dan menulis; cukup melihat dengan hati, berpaling ke dalam diri, dan mulai mencontoh saja.
Alamlah guru dari semua orang suci. Karena melihat dan menginsafi kebenaran alamlah, seorang anak manusia meninggalkan kesesatan untuk menemukan jati dirinya yang sejati dan kembali kepada Tuhan sumber segalanya. Alam adalah wujud nyata kasih dan kebesaran Tuhan. Kita ingin menjadi duta pewarta kasih Tuhan, belajarlah dari alam. Kembali, awali dengan berpaling sebagai ayunan langkah pertama.
Dunia Biasa
Sumber : MS. Wang Che Kuang Bersama waktu yang terus berlalu, dunia dan umat manusia terus berubah. Karena pengaruh fenomena dunia sehingga manusia mulai terbawa arus dan semakin jauh meninggalkan hati nuraninya. Engkau, aku, dan dia, berlomba-lomba untuk menang dari yang lain, sehingga semakin ingin tampak berbeda dengan yang lain. Hidup menonjol bagai seekor bangau di antara kawanan ayam, menjadi dambaan dan kebanggaan umat manusia. Karena inilah manusia semakin jauh berlari dari Biasa. Keinginan untuk tampil luar biasa cenderung membuat seorang manusia menjadi aneh dan abnormal. Sebagian besar manusia bersikap demikian, sehingga keanehan ini dianggap suatu kewajaran.
Sebaliknya, manusia yang ingin kembali hidup biasa dalam nurani justeru dianggap aneh dan lain dari biasanya. Tanpa kita sadari ternyata dunia kita telah menjadi sebuah dunia yang terbalik. Yang benar dianggap salah dan yang salah dianggap benar, yang seharusnya dianggap aneh dan yang aneh dianggap memang demikianlah seharusnya.

Kondisi demikian, menjerumuskan dunia dan umat manusia ke dalam lingkaran penderitaan yang tidak berujung. Manusia hidup dalam beban, tekanan, yang tak mampu ia lepaskan. Sebagian manusia karena hal demikian akhirnya ia mencampakkan hidupnya atau mengakhiri hidupnya. Hal ini juga mengantar dunia memasuki zaman kehancuran. Manusialah dalang utama dari semua ini.
Manusia yang berbuat akhirnya manusia juga yang menerima akibatnya. Perilaku manusia yang terus menjauhi kebenaran, mengakibatkan datangnya musibah dan bencana yang tak mampu diatasi oleh manusia. Alam menjadi murka dan tak ingin lagi bersahabat dengan manusia. Sementara sesama manusia saling menuding dan menyalahkan, hidup dalam kebencian dan keinginan untuk menghancurkan sesamanya. Semua ini menjadi masalah yang tak mampu diselesaikan oleh manusia manapun di dunia.

Tuhan, Sang Pencipta dan Penguasa atas dunia ini, maha mengetahui segalanya. Dialah yang mampu mencarikan jalan keluar dari lingkaran setan seperti ini. KasihNya tiada henti dan tiada batas untuk semua makhluk ciptaanNya. Saat manusia dengan tidak bertanggung jawab melemparkan semua masalah yang sudah tak mampu ia selesaikan kepada Tuhan, Tuhan tetap menerima dan menyelesaikan masalah ini untuk menyelamatkan setiap percikan jiwaNya. Ia mengutus Sang Maitreya untuk menyelesaikan masalah ini. Ini merupakan Misi Suci Maitreya.

Sang Maitreya datang ke dunia dengan membawa Kabar Sukacita Semesta. Kedatangannya merupakan dambaan, terang, dan harapan semua makhluk. Sang Maitreya paling mengasihi dunia dan semua makhluk maka Beliau datang untuk menyelesaikan masalah besar ini. Dharma Agungnya datang untuk memperbaiki pandangan keliru yang sudah berurat akar sejak dahulu kala. Kasih dan pribadinya datang untuk menggugah dan menyadarkan hati nurani umat manusia. Di saat manusia dihancurkan oleh konsep ‘luar biasa’ maka Beliau datang membimbing manusia untuk menginsafi Kebenaran ‘Biasa’, memulai Hidup Biasa, menjadi Manusia Biasa, dan berkarya dengan Biasa. Inilah jalan keluar dari permasalahan manusia yang amat kompleks.

Misi Suci Maitreya adalah misi membangun dunia biasa. Sang Maitreya dengan Wajah Kasih, Hati Kasih, dan Perilaku Kasih, datang di hadapan umat manusia. Inilah Pribadi Biasa yang ditampilkan untuk menyadarkan umat manusia. Saat dipukul tidak melawan, saat dimarah tidak membalas, merupakan Dharma Agung Maitreya untuk meluluhkan hati yang keras dan selalu ingin menang sendiri dari setiap manusia. Singkat kata, dengan semua pribadi luhur Sang Maitreya datang membimbing umat manusia untuk kembali ke dalam Hati Nurani, Hati Biasa. Kearifan Maitreya yang tiada tara secara langsung mengungkapkan kepada manusia akan kenyataan nurani yang sebenarnya. Asalkan kita mau menerima dan mengikuti langkahnya untuk kembali menjadi manusia biasa, spontan hidup kita pasti berubah.
Dari sebuah kehidupan yang penuh beban, dari pencarian yang tidak berujung, dari persaingan yang tak menentu, berubah menjadi kehidupan yang biasa, bebas leluasa, mapan, dan damai dalam jiwa. Saat semua manusia kembali biasa, di sanalah terang dan keselamatan. Dunia yang penuh kekacauan berubah menjadi damai sentosa. Dunia yang penuh kejahatan berubah menjadi bumi suci. Dunia yang penuh linangan air mata berubah menjadi dunia tawa ceria. Dunia yang penuh dosa berubah menjadi dunia dengan sejuta kebajikan dan pribadi luhur. Inilah ‘Dunia Biasa’ yang akan dibangun Sang Maitreya.

Wahai semua manusia yang peduli akan dunia dan hidupnya, marilah kita berpaling dan berubah. Berhentilah dari lari panjang yang amat meletihkan. Akhirilah pertikaian yang hanya akan membawa kehancuran. Lepaskan beban, buka pintu jiwa, dan tataplah semua mustika yang ada di dalamnya. Percayalah, itulah anda, itulah saya, itulah dia, yang sebenarnya. Mulai langkah baru dalam Kehidupan Biasa. Mulai karya baru yang penuh Nuansa Kasih dan Biasa. Pada dasarnya, kita sama dan kaya berlimpah dalam jiwa, karena percikan Jiwa Tuhan hidup dalam diri kita. Begitu berpaling, kita pasti menemukan; menemukan diri yang biasa dan memulai Hidup Biasa. Insafilah, Hidup Biasa paling bahagia, Hidup Biasa paling leluasa, Hidup Biasa paling merdeka, Hidup Biasa paling bermakna, Hidup Biasa paling indah, Hidup Biasa berjuta rasa!

Manusia Biasa mengasihi segalanya namun dalam hatinya yang biasa,
ia tak pernah merasa telah memberikan kasih yang besar untuk orang di sekelilingnya.
Karena tiada bekas dalam hati maka tiada tuntutan dalam jiwa.
Karena tiada tuntutan dalam jiwa maka tiada yang mampu menghentikan langkah kasihnya.
Inilah Kasih Sejati yang mampu lestari, kekal abadi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar