Jumat, 28 Agustus 2009

Sejarah Kemunculan Maitreya

Sumber : Majalah Cahaya Maitri
Ketika Sang Buddha Sakyamuni terlahir ke India sebagai Buddha, Maitreya juga datang mengikuti Sang Buddha dan dilahirkan di India Selatan. Sang Buddha mencapai kesempurnaan dibawah pohon Bodhi dan terkenal di seluruh India. Di waktu yang sama, Maitreya juga mencapai tingkat kesadaran akan alam semesta, rela melepas segala kenikmatan duniawi, sepenuh hati dibawah bimbingan Sang Buddha Sakyamuni terus meningkatkan diri.
Pada suatu kesempatan, ketika berada di Gunung Yen Fang, Sang Buddha bersabda tentang Kitab Maitreya Mencapai Kesempurnaan dan menjelaskan kepada Upali, “ Masa dua belas tahun kemudian, Maitreya akan terlahir di Surga Tusita. Saat itu para penghuni Surga Tusita akan mendapatkan siraman kebahagiaan dan kebajikan yang besar”.

Di salah satu bab dalam Kitab Maitreya Mencapai Kesempurnaan diceritakan dengan jelas tentang Maitreya dan Surga Tusita, bab ini juga sebagai bukti tentang kenyataan adanya Surga Tusita.

Selanjutnya Sariputra yang terkenal dengan kebijaksanaannya bertanya kepada Sang Buddha, “ Bagaimana dengan kemunculan kembali Maitreya sebagai seorang Buddha? Mohon Sang Junjungan Dunia memberi petunjuk agar kami semua lebih mengerti”.

Sang Buddha menjelaskan, “ Pada saat Maitreya turun ke dunia sebagai seorang Buddha, saat itu setiap pemimpin Negara sangat disiplin dan bijaksana, rakyat hidup tentram bahagia, sandang- pangan terpenuhi, hubungan antara manusia sangat harmonis, tidak ada pertikaian dan bencana, usia manusia mencapai 80 ribu tahun”.

Para Bhikku yang mendengarkan sangat berkeinginan untuk bisa terlahir di Surga Tusita dan bersama- sama dengan Maitreya turun ke dunia.

Setiap detil peristiwa tentang Maitreya tercatat dalam kitab Maitreya Turun ke Dunia Sebagai Seorang Buddha. Kitab ini merincikan tentang alam sahaloka dan alam bahagia yang terwujud ketika Maitreya datang dengan misi sebagai seorang Buddha. Maitreya dengan dharma agungnya datang untuk menyelamatkan tiga alam. Ini sedikit gambaran Sang Buddha kepada murid- murid-Nya.

Pernah pada suatu kelahiran, Sang Buddha Sakyamuni dan Maitreya bersama- sama membina diri. Keduanya bertekad mengembangkan cinta kasih. Tetapi saat itu Maitreya tidak segiat Sakyamuni dalam membina, sehingga Sakyamuni lebih dahulu mencapai kesempurnaan.

Dalam sejarah Tiongkok, Maitreya lebih dikenal dengan simbol pengasih. Selama berkalpa-kalpa kehidupan Maitreya terus menjadikan kasih sebagai landasan pembinaan. Maitreya pernah terlahir sebagai Ajita yang artinya “ Tak Terkalahkan”. Dalam Kitab tercatat, di zaman yang penuh kekacauan, Maitreya datang dengan kasih-Nya yang tiada tara mengalahkan semua bencana.

Simbol pengasih yang melekat pada diri maitreya mengandung arti yang mendalam. Bersumber dari sebab jodoh pada setiap kelahiran dengan umat manusia, mengutamakan kasih dalam pembinaan, dan mencapai kesempurnaan dengan kasih, maka tersebutlah “Maitreya Sang Pengasih”. Sang Pengasih yang berikrar untuk tidak memakan daging, Sang Pengasih yang menjalani pembinaan dengan metode kasih.

Maitreya sangat memahami sifat dasar manusia, menyerukan persamaan sesama makhluk, tidak membedakan tinggi- rendah, sehingga Beliau bersabda, “Dagingku adalah daging umat manusia, saya tidak akan memakan daging semua makhluk.” Ini sudah dilaksanakan ketika Maitreya mulai membina diri untuk yang pertama kalinya.

Sejak saat itu kasih-Nya yang agung telah menjadi panutan bagi setiap Pembina dari zaman ke zaman. Ditinjau dari sejarah Maitreya, maka aliran Mahayana berpantangan makan daging. Dari awal zamannya Sang Buddha telah disabdakan tidak boleh memakan daging segala makhluk. Setiap yang memakan daging berarti memutuskan tali cinta kasih, tidak memakan daging berarti menumbuhkan belas kasihan terhadap sesama makhluk .
ini melahirkan keinsafan sejati, inilah dasar seorang Buddha. Bahkan ketika seekor nyamuk menggigit tubuh kita juga tidak boleh membunuhnya, sehingga muncul istilah “Beramal dengan Badan”. Ketika satu perbuatan kita yang sekecil apapun melukai atau menghilangkan nyawa makhluk lain patut dipertobatkan dan disesalkan, kemudian dibacakan parita untuk membantunya menuju alam bahagia. Ini adalah tingkat tertinggi dari pembinaan seorang Buddha.

Para Pembina di Daratan Tiongkok baik seorang Bhikku maupun orang yang berkebajikan sangat menjunjung tinggi sila pembunuhan dan adalah kewajiban menganjurkan orang lain menjalankan hal yang sama. Jadi bukan hanya tidak makan daging, tapi juga tidak boleh melukai makhluk hidup yang lain. Inilah teknik pembinaan Samadhi Maitri. Sewaktu mencapai kesempurnaan, Maitreya lebih memilih berdiam di alam tingkat 4, Surga Tusita, yang berarti “Berkecukupan”. Di surga Tusita setiap penghuninya masih mempunyai nafsu keinginan namun mereka tidak terikat dan tidak serakah serta memahami benar hukum sebab-akibat. Di Surga Tusita segala keinginan bisa terpenuhi, sehingga dinamakan alam berkecukupan.

Maitreya berdiam di istana 49 lapisan yang terletak di taman dalam. Di sinilah Maitreya membabarkan dharma. Selain taman dalam, masih ada taman luar yang penghuninya masih mempunyai keinginan sehingga disebut “Taman Awam”. Ditaman dalam tempat Bodhisatwa Maitreya berdiam juga ada penghuni lain yang telah mencapai tingkat Bodhisatva. Dikarenakan Maitreya berdiam disana maka dinamakan juga Bumi Suci Maitreya.

Pembina yang berjuang mencapai Bumi Suci Maitreya lebih banyak ditemukan sebelum jaman Dinasti Tang. Sesudah itu, kebayakan Pembina lebih berkeinginan lahir di Bumi Suci Barat sehingga nama Surga Tusita jarang terdengar lagi. Walau demikian, Pembina yang berpengalaman tetap memilih Bumi Suci Maitreya karena dengan memilih Bumi suci Maitreya maka kelak akan berkesempatan bersama- sama maitreya turun ke dunia untuk menggelar misi akbar, dan itu adalah kesempatan terbaik untuk mencapai pencerahan. Di Surga Tusita, Maitreya bukanlah menikmati kesenangan, tetapi demi menuntun Pembina yang masih belum bisa melepaskan sisi keduniawiannya agar mereka menemukan jalan terbaik untuk meningkatkan pembinaan diri.

Pada masa Dinasti Liang, Maitreya terlahir di She Jiang bernama Fu Weng, orang-orang menyebutnya Fu Da She, ia berteman baik dengan raja Liang Wu Di dan sering berkesempatan membabarkan dharma di istana. Raja Liang sangat percaya pada dharma dan manjadi pengikut setia sang Buddha. Namun sang permaisuri tidak percaya bahkan menghina Buddha Dharma, akhirnya meninggal dunia karena suatu penyakit. Sesudah meninggal ia mendatangi Raja Liang dalam mimpi dan menceritakan bahwa karena semasa hidup telah menghina Buddha Dharma, akibatnya ia sangat menderita di alam neraka dan sulit terbebaskan.

Raja menjumpai Fu Da She meminta petunjuk akan mimpi tersebut. Fu Da She menganjurkan mencari Pertapa Agung di gunung Jiang Jin. Sang pertapa menganjurkan sang raja mengadakan pertemuan dharma selama 49 hari. Setelah itu sang permaisuri kembali mendatanginya dalam mimpi dan mengatakan bahwa ia telah mendapatkan pahala dan sekarang berkesempatan lahir di alam ke-33.

Pada zaman Dinasti Nan berdiri 480 kuil, di setiap tingkat terpampang 2 baris kalimat berbunyi,”Kita bisa melihat keyakinan raja Liang terhadap Buddha dharma dan menyaksikan begaimana Buddha Dharma berkembang pesat pada masa itu. Semua ini tidak terlepas dari kemunculan Maitreya sebagai Fu Da She”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar